Malam semakin larut sedangku masih tetap terpaku menyaksikan keindahan malam yang bertaburan kemilau bintang bersudut lima. Disini kumeratap menghitung angka-angka dosa yang terlanjur kuperbuat. Tenagaku sirna tiap kali kumengingat dia sang penghuni syurga yang kerap kali menyita waktuku. Kumerasa hadirnya buatku takut, rindu, dan khawatir. Apakah aku akan selamanya sanggup tuk menjalani hidup tanpa dirinya sedangkan hatiku amat membutuhkannya.?
Semuanya berawal sejak aku memaksakan kehendakku untuk menduakan cintanya dengan wanita muda yang berasal dari kota kelahiran Raden Bhindereh Saot dan Joko Tole yaitu Kota Sumekar. Kupaksa Aisyah istri pertamaku agar mau menerima kehadiran Fina calon istri keduaku, meski kenyataannya dia sepertinya meragu.
“Mas, apakah kasih sayang yang kupersembahkan, cinta yang kuhadirkan, dan keharmonisan yang kuciptakan masih belum bisa memuaskan keinginan Mas dalam menjalin hubungan yang kita jalani selama ini sehingga Mas masih berkeinginan untuk menikah lagi?”. Tanya Aisyah saat makan malam.. Kutahu saat itu hatinya terpukul tapi sungguh biadap diriku yang tak mau mengalah hanya demi kepuasan hasratku saja.
“Aku bukannya belum puas dengan semua kasih sayang, cinta, dan keharmonisan
yang kau persembahkan padaku, tapi aku hanya ingin mempunyai keturunan yang bisa mewariskan segala apa yang kupunya sedangkan itu semua tidak akan pernah terkabulkan jika kita masih tetap mempertahankan hubungan kita ini, kecuali kamu mengizinkanku untuk menikah lagi dengan Fina.”. Jawabku enteng tanpa merasa berdosa.
“Tapi Mas, itu kan hanya praduga saja yang belum jelas kebenarannya”. Aisyah
membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya, tapi itu masih belum bisa meluluhkan hatiku justru amarahku semakin menjadi.
“Kau boleh berkata seperti itu untuk mencegahku menikahi Fina, tapi aku lebih percaya terhadap apa yang dokter katakan bahwa kau mandul jadi, jika kau benar-benar sayang padaku izinkanlah aku untuk menikahinya dan juga demi bertahannya kehidupan kita ini”. Kumengucapkannya tanpa menghiraukan sakit hati yang dirasakannya. “Kamu mau kan melakukannya demi keturunan kita?”. Lanjutku seraya memegang kedua tangan Aisyah.
“Baiklah jika itu yang Mas inginkan Aisyah akan turuti karena tidak ada yang bisa Aisyah lakukan selain menuruti kehendakmu Mas”. Ucapnya dengan suara parau lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan, meninggalkanku bersama luka yang baru kutorehkan dalam jiwanya.
* * *
Sejak itulah aku hidup bersama kedua istriku Aisyah dan Fina. Awalnya aku bisa merasakan manisnya berpoligami tapi ternyata semua itu tak bertahan lama apalagi saat aku harus membagi waktu secara adil bersama mereka masing-masing.
“Mas malam ini waktunya bersama Aisyah, jadi Aisyah mengharapkan keridhaan Mas selama bermalam dengan Aisyah”. Ucap Aisyah saat makan bersama di ruang makan. Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakannya.
“Tapi Mas kita kan masih baru nikah masak Fina sudah mau ditinggalin, kamu juga sih Mba’ Aisyah, harusnya lebih mengerti kalau orang yang baru nikah itu masih ingin berlama-lama berada dalam dekapan suami bukan pas dipisah”. Ucap Fina tiba-tiba yang membuatku tersentak kaget. Aku tak menyangka kalau Fina akan berkata seperti itu.
“Mas malam ini tidur bareng Fina lagi ya?”. Ucapnya kemudian. Aku tak tahu aku harus berkata apa lagi, aku hanya diam. Kulirik Aisyah sekilas.
“Mas, Aisyah kan juga istri Mas jadi Aisyah berhak mendapatkan kasih sayang Mas melebihi de’ Fina karena Aisyahlah istri pertama Mas”.
“O gitu ya Mba’, mentang-mentang jadi istri pertamanya Mas Irul Mba’ Aisyah mau menyiksa batin Fina,?”.
“Bukan seperti itu de’, Mba’ tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hatimu tapi Mba’ juga butuh Mas Irul”.
“Alah bilang saja Mba’ tidak mau kalau Mas Irul bareng Fina terus iya kan? salah Mba’ sendiri sih tidak bisa punya anak padahal suami akan setia jika sang istri bisa memberikannya keturunan”.
“Astaghfirullah de’ kenapa kamu bilang seperti itu sama Mba’, Mba’ tidak pernah bermaksud untuk seperti itu”. Ucap Aisyah parau, aku tahu rasa sakit yang saat itu dia rasakan akan terobati jika aku memilih untuk bermalam dengannya tapi entah mengapa bukan hal itu yang kupilih.
“Sudah jangan bertengkar disini aku capek, harusnya kalian tahu kalau aku lagi penat baru datang kerja, kamu juga Aisyah harusnya kamu mengalah dari Fina bukan malah bersikeras untuk melakukan kehendakmu itu”.
“Tapi Mas dalam agama islam suami harus bisa berlaku adil apalagi dalam masalah menafkahi batin, Mas tahu kan bahwa sejak Fina tinggal disini dan menjadi istri Mas, Aisyah selalu mengalah karena Aisyah tahu bahwa kalian itu masih ingin merasakan manisnya berbulan madu. Dan juga saat Mas tidak mengajakku untuk menghadiri acara Walimatur ‘Ursy dirumah Mas, Aisyah terima meski kenyataannya Aisyah merasakan ada yang berkurang dalam diri Aisyah yaitu kasih sayang Mas yang biasa hadir untuk selalu membuat Aisyah tersenyum”. Ucap Aisyah serak. Dia menangis.
“Baiklah Mas Aisyah akan turuti semua keinginan Mas itu, dan Aisyah akan selalu ada jika Mas butuhkan. Aisyah akan selalu setia mencintai Mas”. Ucapnya kemudian pergi meninggalkanku bersama Fina.
* * *
Peristiwa itulah yang membuatku murka akan kebersamaan dalam berumah tangga. Aku tidak bisa berlaku adil. Aku lebih senang bersama Fina apalagi sejak dia berhasil mengabulkan keinginanku yaitu mempunyai keturunan dari darah dagingku sendiri. Kuhabiskan seluruh waktuku hanya untuk menemani Fina dan calon bayiku. Tak kuhiraukan Aisyah yang selalu tidur sendirian tanpa ada yang menemani. Aku tahu dia akan merasakan kesepian yang mendalam saat dinginnya angin malam merasuki tubuhnya meski dia sudah berlindung dibawah selimut, tapi semua itu tak membuatku sedikitpun untuk merasa kasihan justru aku makin tega melakukannya karena prinsipku saat itu hanyalah menyayangi istri yang bisa mengabulkan semua keinginanku yaitu mempunyai keturunan...
* * *
Penderitaan Aisyah semakin hari semakin bertambah, tapi hal itu tetap saja tak membuat hatiku tersentuh sedikitpun. Aku malah semakin tak memperdulikannya. Cinta yang dulu kujanjikan telah berubah menjadi fatamorgana di antara aku, Aisyah, dan Fina. Seperti pagi itu, aku tahu saat itu Aisyah tengah sibuk mempersiapkan sarapan pagi sendirian. Dia dengan sabar mengerjakannya tanpa ada keluhan sedikitpun meski terkadang Fina yang sudah tahu kalau Aisyah sibuk masih saja memerintah Aisyah seenaknya saja.
”Mba’ Aisyah, Mba’ Aisyah tolong buatin aku es teh !”. Ucap Fina dari kamarnya. Dengan segera Aisyah mengambilkan teh hangat dan memberikannya pada Fina, Finapun meminumnya tapi tiba-tiba teh itu disemburkan kewajah Aisyah yang membuatnya gelagapan.
”Mba’ ini gimana sih aku kan minta buatin es teh bukan teh hangat. Apa Mba’ Aisyah ingin membunuh bayi yang ada dalam kandunganku ini?”
”Maaf de’ Mba’ tidak pernah bermaksud seperti itu, Mba’ Cuma teringat ucapan almarhumah Ibu Mas Irul kalau hamil muda jangan terlalu banyak minum air atau teh yang ada esnya karena itu tidak baik untuk kandungan”.
”Tahu dari mana Mba’ Aisyah tentang hal itu wong Ibunya Mas Irul sudah lama mati, atau jangan-jangan Mba’ Aisyah kesurupan arwahnya Ibu Mas Irul? Ha ha ha kasihan deh kamu Mba’ pantas saja Mas Irul nggak mau sama Mba’ ”. Fina tertawa keras yang membuat Aisyah terhina. tanpa diduga tangan Aisyah mendarat keras dipipi Fina. Aisyah terkejut
”Maafkan aku de’ bukannya aku sengaja melakukannya tapi aku tak terima jika kau mengata-ngatai Ibu mertua kita seperti itu karena kenyataannya beliau bukanlah orang yang seperti itu dan arwahnya takkan pernah gentayangan seperti yang de’ fina katakan”. Ucap Aisyah seraya meminta maaf pada Fina tapi Fina takkan segampang itu memaafkan orang yang sudah menyakiti jiwa dan perasaannya. Diapun balas menampar Aisyah dan menjambak rambut Aisyah sehingga Aisyah meronta-ronta menahan sakit. Hal itu masih belum memuaskan bagi Fina dia membenturkan kepala Aisyah kedinding sehingga pelipisnya keluar darah.
”De’ maafin Mba’, tolong jangan siksa Mba’, Mba’ mohon de’ ”. Suara Aisyah memelas tapi fina tetap saja tak melepaskannya malah tambah mempererat pegangannya.
”Memang ini kan yang Mba’ Aisyah inginkan?”. ucapnya lalu menyeret tubuh Aisyah kekamar mandi tapi ketika hampir menggapai gagang pintu kamar mandi tiba-tiba pintu kamar Fina ada yang mengetuknya dari luar, dengan secepat kilat Fina membenturkan kepalanya kedinding dan berpura-pura jatuh.
”Sayang kamu kenapa, apa yang terjadi sama kamu?”. ucapku saat mendapati kening Fina berdarah. Finapun memeluk ku dan menangis dalam pelukanku.
”Tadi Mba’ Aisyah membenturkan kepala Fina kedinding karena Fina membela Ibu Mas yang Mba’ Aisyah bilang arwahnya gentayangan, padahal itu tidak akan pernah terjadi karena Ibu Mas Irul adalah orang baik-baik”. Tutur Fina meyakinkan. Darahku naik keubun-ubun. Kutatap Aisyah yang meringkuk ketakutan melihat wajahku yang memerah menahan amarah. Kubantu Fina untuk berdiri dan menidurkannya di tempat tidur. Setelah itu kuhampiri Aisyah lalu menyeretnya dengan keras untuk keluar kamar.
”Kau telah mengata-ngatai Ibu seperti itu hah? Padalah beliau sangat menyayangimu kenapa kau lakukan itu?”. Aku geram menahan amarah lalu tanpa menunggu waktu yang lama kucambukkan sabukku kepunggung Aisyah, dia meronta-ronta menahan sakit meminta maaf kepadaku.
”Maafin Aisyah Mas, Aisyah tidak pernah berkata seperti itu. Itu fitnah Mas itu fitnah”.
”Fina tidak akan pernah berkata seperti itu jika kau tak mengatakannya karena aku tahu siapa Fina, dialah istri paling baik”.
”Tapi, argh . . . . sakit Mas sakit”. Ucap Aisyah saat 1 cambukan mendarat dipunggungnya yang keluar darah. Tapi hal itu masih belum cukup bagiku sehingga aku menambahinya dengan siraman air yang masih mendidih yang ku ambil dari atas kompor.”Mas, tolong hentikan Mas Aisyah mohon, Aisyah benar-benar tidak berkata seperti itu Demi Allah Maspun jatuh pingsan.
* * *
Sudah 4 hari sejak itu aku tak merasakan lagi hadirnya Aisyah baik di meja makan, ruang tamu, dan tempat lainnya yang biasa ditempatinya. Hatiku merasa khawatir apalagi saat terakhir aku merlihat Aisyah tubuhnya semakin kurus. Mungkin semua itu karena dia tidak makan teratur. Kuhampiri Fina yang saat itu tengah berada di taman belakang.
”Sayang, Mba’ Aisyahnya kemana kok sudah 4 hari Mas tidak melihatnya?”. tanyaku sambil meraba-raba perut Fina. Ku tahu Fina merasa heran karena tak biasanya aku menanyakan Aisyah.
”Tuh ada dikamar katanya sih lagi nggak enak badan”. Jawab Fina menatapku.
”Apa, Aisyah sakit? Kenapa kamu tidak bilang-bilang kalau dia sakit.” ucapku dengan nada suara meninggi.
”Wong Masnya nggak nanyak, lagian Mba’ Aisyah itu cuma pusing biasa”. Jawab Fina enteng.
”Tapi meskipun cuma begitu dia kan juga harus diperhatikan sebagai istri pertamaku”. Aku semakin geram dengan sikap Fina akhir-akhir ini tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tengah mengandung anakku jadi aku tidak mungkin menyakitinya baik lahir maupun bathin.”Ya sudah aku masih mau menjenguk Aisyah”. Ucapku lalu beranjak pergi. Kubuka pintu kamar Aisyah pelan-pelan karena aku tak ingin mengganggu ketenangannya. Kulihat Aisyah tengah tertidur dibawah selimut yang biasa aku pakai saat-saat bersamanya dulu. Kusingkap selimut yang melindungi tubuhnya setelah aku berada disampingnya. Tak kusangka tubuhnya yang sintal dibawah balutan kain panjang yang menutupi tubuhnya kini sudah tinggal tulang. Aku tersentak kaget setelah kutahu bahwa Aisyah bukan sakit biasa itu terbukti saat kusentuh tubuhnya panas.
”Sayang kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit?”
”Nggak apa-apa Mas Aisyah Cuma sakit biasa mungkin ini karena kecapekan”. Ucapnya tersenyum, tapi aku tak yakin kalau dia Cuma sakit biasa apalagi saat kulihat matanya yang cekung.
”ini bukan sakit biasa Aisyah, badanmu panas, lebih baik kita periksa kedokter karena aku tak ingin sesuatupun terjadi pada dirimu”. Ucapku hendak menggendong tubuh Aisyah, tapi dia menolaknya.
”Kenapa Aisyah, apa kamu tidak mengharapkan kepedulianku?”.
”Bukan seperti itu Mas, Aisyah akan selalu mengharapkannya tapi untuk saat ini ada yang lebih membutuhkannya yaitu de’ Fina apalagi dia tengah mengandung anakmu”.
”Tapi itu kan anakmu juga Aisyah anak kita berdua”.
”Dia bukan anakku Mas tapi anak de’ Fina, Aisyah tidak akan pernah bisa mempunyai anak dari darah daging Aisyah sendiri karena Aisyah . . . . . . karena Aisyah . . . . . .” kulihat dia menangis membuatku merasakan sakit dalam hatiku.”Maaf Mas, Aisyah tidak bisa menahan air mata Aisyah, mungkin dimata Mas, Aisyah adalah wanita yang cengeng dan lemah, tapi meskipun seperti itu Aisyah akan mencoba tetap tegar karena aku adalah Aisyahmu Mas”. Ucapnya seraya menghapus air matanya. Aku tak tega melihat semua itu, aku benar-benar merasa bersalah mengapa aku baru menyadari kalau Aisyah adalah istri yang baik.
”Aisyah harap Mas akan memaafkan semua kesalahan Aisyah karena Aisyah ingin hidup tenang di alam sana. Dan Aisyah akan selalu mencintai Mas sampai kapanpun”.
”Jangan bilang seperti itu sayang kamu tidak akan pergi kemana-mana aku akan selalu menemanimu dan menjagamu, aku janji”.
”Tapi Mas, Aisyah harus pergi karena Aisyah sudah ada yang menunggu”.
”Tidak Aisyah, kamu harus tetap berada disini, aku sangat membutuhkanmu”. Ucapku seraya menggendong tubuh Aisyah untuk membawanya ke rumah sakit. Fina memanggil-manggil memintaku untuk berhenti dan membiarkan Aisyah sendirian pergi kerumah sakit, tapi aku tak menghiraukannya karena aku ingin menyelamatkan Aisyah. Saat aku hendak berhasil menggapai pintu mobil tiba-tiba Aisyah memintaku untuk berhenti.
”Mas, Aisyah ingin meminta sesuatu sama Mas tapi jika Mas mau mengabulkan permintaan Aisyah ini”. Ucapnya. Akupun menyandarkan tubuh Aisyah di jok mobil.
”Apapun yang kamu minta aku akan mengabulkannya”.
”Aisyah merasa dingin, Aisyah ingin dipeluk untuk yang terakhir kalinya”. Ucapnya seraya tersenyum.
”Sssts . . . kamu jangan berkata seperti itu, aku yakin kamu pasti akan sembuh dan kita akan hidup bersama selamanya, aku yakin itu”. Ucapku lalu memeluk erat tubuh Aisyah, aku menangis, aku benar-benar merasa takut untuk kehilangan dia. Tapi tiba-tiba ada yang aneh dalam pelukanku, tubuh Aisyah kaku, wajahnya memucat. Aku semakin khawatir. Kugoncang-goncangkan tubuh Aisyah tapi dia tetap tak berkutik. Aku semakin mempererat pelukanku saat kusadari bahwa istriku Aisyah Humaira’ telah pergi, yach . . . dia pergi bersama luka yang kugoreskan sejak dulu, pergi meninggalkanku dalam kesepian.
* * *
Sejak kepergian Aisyah aku merasa kehilangan yang tiada tara. Waktuku hanya kuhabiskan di sini di beranda rumah tempat aku bercengkrama bersama Aisyah dulu. Tak kuhiraukan orang-orang yang menatapku heran termasuk Fina, karena yang ada dalam fikiranku hanyalah menunggu Aisyahku kembali meski sampai saat ini dia tidak pernah hadir dan tidak akan pernah hadir kembali dalam dekapanku kecuali di alam mimpi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar