
Argh . . . . lagi-lagi aku harus berhadapan dengan sang keamanan pondok yang tak lelah untuk mengatur kehidupanku. Yah mungkin selamanya dia takkan pernah merasakan kelelahan itu. Setiap kali pelanggaran baik yang sengaja kulakukan atau tidak, meeting yang menyebalkan itu pastilah berjalan dan anehnya aku hanya bisa mengumpat dalam hati, dan membiarkan rasa sakit dan lebam-lebam yang diciptakan oleh rotan alat mereka untuk memukul para santri yang melanggar aturan pondok itu terus saja terjadi. Sempat kumerasa dunia ini sangatlah tidak adil karena segala apa yang kulakukan pastilah menurut mereka suatu kenakalan yang akan mempengaruhi para santri lainnya seperti saat ini aku tengah diintrogasi dalam ruangan yang berukuran 4x4. Penyebab aku berada dalam ruangan itu hanyalah karena sebuah surat cinta yang menurutku hal itu sangatlah wajar dilakukan oleh para remaja yang masih berada dalam masa puber seperti diriku saat ini. Dan karena surat cinta itu aku bisa ciptakan beribu rasa dalam jiwa yaitu rasa rindu, senang, dsb.
“ saudara Arief ! saudara sudah tahu kan kenapa saudara dipanggil keruangan ini ?” Tanya koord.keamanan tanpa ada senyuman sedikitpun. Sikapnya sangatlah dingin dan akan menciptakan rasa takut jika berhadapan dengannya, seperti saat ini yang tengah kurasakan. Hanya anggukan kepala yang bisa kulakukan karena tuk bersuarapun tenggorokanku terasa kering dan pahit. Aku tak berani tuk menatap matanya yang kan semakin memojokkanku.
“ saya butuh suara sebagai jawaban bukan anggukan “ bentak kang malik yang membuat keringat dinginku semakin mengucur. “ ya kang “ jawabku singkat.
“ apa kau masih mau mengelak seperti kemaren, bahwa kau sudah melakukan pelanggaran dalam pondok ini, yaitu pacaran? Sementara surat yang ada di tangan saya ini sudah menjadi buktinya “ kang Malik kembali membentakku. Ku diam tak menjawab dan tanpa bisa ku hindari lagi rotan itupun mengenai jari-jemariku yang berada di atas meja pembatas jarak antara diriku dan kang Malik. Ku mengerang menahan sakit. Ingin ku berontak tapi tak bisa.
“ saudara tahu kan bahwa mengirim surat kepada selain mahram sangatlah dilarang dalam pondok ini apalagi berpacaan “
“ ya kang “
“ tapi kenapa saudara masih tetap melanggarnya ? sungguh kahidupan saudara sangatlah amburadul dan tidak sesuai dengan nama yang disandangkan oleh orang tuanya, yaitu ‘Arief Budiman ‘ orang yang bijaksana dan berbudi pekerti baik “ ungkapan itu berhasil menjebolkan rasa takutku dan menciptakan perasaan membenci, marah, dan muak dengan apa yang dilontarkan kang Malik. Ku tatap muka kang Malik yang juga tengah menatapku dengan nanar. “ seharusnya orang yang bijuaksana itu bisa menjaga diri dari hal-hal yang kan menjerumuskannya pada kemaksiatan, bukan pas semakin melanggarnya “ lanjut kang Malik yang semakin memancing emosiku. “ dan . . . “
“ cukup , aku muak dengan ucapanmu itu Malik. Kau merasa seperti orang yang sok suci, tapi tidak dengan hatimu yang membusuk “ umpatku tanpa memperdulikan amarah dalm diri kang Malik, dan tanpa terelakkan lagi sebuah tamparan berhasil mendarat di pipiku yang sedikit merobek ujung bibir. Sakit itupun terasa dan merembeskan darah kehormatanku yang terhina. Ku mengelapnya dengan punggung tanganku.
“ kamu memang egois Malik. Kau tak pernah melihat di sekitarmu. Kau melarang orang yang berpacaran lewat surat-suratan sementara mereka enak-enakan berbicara lewat telfon. Mana keadilan yang kau janjikan, mana ?” pyaaaaar . . . . . sebuah tamparan kembali mendarat di pipi dan berhasil membuatku terjungkal. Saat ini kurasa kang Malik benar-benar merasa marah.
“ kamu boleh berkata seperti itu atau lebih parahnya memaki-maki aku. Tapi, jangan pernah kau mengambil hakku “ ungkapnya seraya pergi meninggalkanku yang masih terjungkal. Ku tak mengerti dengan ucapan kang Malik tadi. Kembali ku putar memori otakku untuk mengingat kejadian yang telah terlewati sejak tadi, tapi tetap saja tak kutemukan hingga, kang Heri Sei. Keamanan yang lain menghampiriku.
“ maafkan atas sikap kang Malik tadi “ ucapnya seraya duduk menggantikan tempat duduk kang Malik.
“ ku benci kang, ku benci. Harusnya bukan dengan cara seperti ini dia mengintrogasi. Ku merasa terhina, dan harga diriku terinjak-injak. Tak pernah kumerasakan hal sesakit ini kecuali saat ini, dan oleh orang yang benar-benar membuatku merasakan ketidak adilan “ ucapku masih penuh amarah. Kang Heri membelai-belai pundakku “ yah, ku mengerti, tapi setiap manusia pastilah khilaf begitu juga dengan kang Malik tadi “ “ khilaf boleh kang tapi jangan semena-mena. Kita sama-sama manusia tak ada yang berbeda. Seandainya aku tahu sejak awal bahwa kehidupan di pondok sangatlah menyakitkan, maka aku takkan pernah mau menerima tawaran ibu dulu “ ucapku seraya menutup muka yang terasa sakit dan lebam.
“ akang harap saudara Arief takkan merasa jenuh hidup di daerah kami. Hal itu terjadi karena merupakan ketentuan bagi kami yang sudah dipercaya untuk mengemban amanah sebagai pengurus keamanan. Jadi, saudara Arief harus menerimanya. “
” entahlah kang aku sudah tak tahu harus bersikap seperti apa lagi, karena mau bgimanapun juga kang Malik takkan pernah mau mempercayaiku ”
” insya Allah hal itu tidak akan terjadi lagi. Dan lebih baik sekarang saudara Arief ceritakan bagaimana awal saudara kenal dengan neng Azifa ? ” ucap kang Heri kemudian. Aku agak meragu tuk menceritakannya, tapi kang Heri meyakinkanku bahwa beliau hanya menginginkan kejujuran dari diriku. Ku baca basmalah tuk memulainya, menaruh harap pada Allah agar semua ceritaku itu bisa di pahami oleh kang Heri. Cerita itupun mengalir begitu saja dari mulutku sejak pertama kali bertemu neng Azifa di depan dhalem yang kemudian terajut kasih diantara kita.
” begitulah kang semua cerita tentang kami. Kami tak pernah merasa melanggar peraturan yang ada di sini meski kami sama-sama sangat mencintai, kecuali main surat-suratan ”
” tapi hal itu termasuk pada pelanggaran. Dan asal saudara tahu neng Azifa adalah tunangannya kang Malik, jadi akang harap saidara Arief tidak akan mengganggu hubungan mereka apalagi tanggal 25 Maret 2011, neng Azifa dan kang Malik akan menikah ” penuturan kang Heri bagaikan sembilu yang menusuk jantungku. Aku tak kuasa tuk menahan semua gemelut yang tengah menderaku, hatiku menggugah semua ayalku yang memusnah menuturkan kepenjuru organ syarafku bahwa lazuardiku mulai mengkelabung.
” kang Heri se . . . serius kan atas apa yang barusan ku dengar ?” tanyaku tak percaya yang kemudian dibalas anggukan oleh kang Heri. Aku benar-benar menjadi pujangga cinta dalam keremangan jiwa. Akulah sang penyair rindu di antara kesunyian malam. Tanpa memperdulikan kang Heri akupun beranjak dari tempat itu dan berlari entah kemana arahku tuk berlari. Aku hanya ingin menuturkan keresahan jiwaku pada alam yang setia menemani keterpurukanku.
* * *
Semenjak kejadian itu, aku tak lagi punya semangat untuk membalas surat-surat neng Azifa yang semakin menumpuk, apalagi menemuinya. Aku tak sanggup menatap matanya yang sendu dan bibirnya yang merekah. Sungguh aku tak kuasa tuk menghapus auranya yang memukau itu dari memori otakku, meski kenyataannya hal itu haruslah ku lakukan. Ku memilih berdiam di kamar pondokku dan mengerjakan semua aktivitas yang di anjurkan bagi santri seperti diriku.
* * *
Tanggal 24 maret . . .
Tubuhku semakin hari semakin kurus. Kurasakan hal itu ketika aku mengenakan baju kokoku yang menggelembur. Ternyata semua kisah itu berhasil merobohkan tubuh dan wajah eksotikku yang selama ini menjadi kebanggaan tersendiri bagiku.
Saat ini, aku membereskan semua pakaianku yang akan kubawa pulang. Sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan pondok ini, meninggalkan semua kenangan yang menyanjungiku. Akupun sowan ke K. Bahar untuk pamitan bersama kedua orang tuaku. Meski berat hati ku tinggalkan tempat yang telah mengajarkanku pada arti kehidupan yang sesungguhnya.
” Arief ! kau tega meninggalkanku dalam kedurjanaan ini, kau tega meleburkan asaku dalam keremangan jiwa. Padahal kau tahu aku sangat mencintaimu dan mengharapkan kau yang menjadi pendampingku ” suara itu tak asing dalam memori otakku. Tapi, darimana Azifa tahu tentang kepergianku? Padahal aku tak pernah memberitahukannya. Kubalikkan tubuhku dan kudapati Azifa yang menangis dalam balutan kerudung banazirnya yang dulu ku hadiahkan untuk ultahnya yang ke-19.
” maafkan aku Azifa, aku tak pernah berniat untuk meninggalkanmu. Tapi keadaan yang menyuruhku untuk pergi dari tempat ini terutama duniamu yang sebentar lagi akan berubah. Mungkin disaat kau merasakan bahagia, aku tak ada lagi didekatmu, jadi maaf atas segala salahku”. Ku tatap wajah Azifa yang memburam. Aku tak tega melihat kejadian ini tapi apalah daya semua itu harus kulakukan. Tiba-tiba kuteringat bahwa besok adalah hari istimewa dalam diri Azifa yaitu ultahnya yang ke-20 juga hari pernikahannya dengan kang Malik. Mengingat hal itu hati ini sakit tapi entahlah aku hanya ingin Azifa bahagia. Dengan segera kulepaskan syal yang melilit dileherku lalu memberikannya pada Azifa. Akupun melangkahkan kakiku secepat mungkin agar tak ada keterharuan dalam perpisahan ini. Aku tak mau Azifa melihat keterpurukanku. Aku ingin Azifa tetap menganggapku lelaki yang penuh eksotik meski sebenarnya tubuh ini layaknya mayat hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar