Sabtu, 03 Maret 2018

PEREMPUAN YANG MEMBAGI HATINYA

Oleh Muhtadi

Kalau kamu berkunjung ke Sumenep dan melewati jalan di Kebun Agung, kamu akan menemukan rumah bercat kuning di timur sungai menghadap ke barat. Di halaman rumah dekat dengan pagar depan, terdapat pusara berkeramik merah yang besarnya dua kali dari pusara Raja-Raja di Asta Tinggi. Di atas pusara, terdapat atap yang melindungi dari terik matahari dan hujan. Atap itu dikelilingi lampu-lampu kecil. Kalau malam tiba, lampu-lampu itu menyala terang. Dan pusara akan terlihat jelas meski kamu melihatnya dari jalan yang memanjang di sebelah barat sungai.
Dua tahun yang lalu, setelah sepakat pernikahan akan dilangsungkan sebulan lagi, perempuan yang kini berada dalam pusara datang ke rumah itu setiap pagi. Di atas meja yang berada di teras rumah, sudah tersaji dua gelas teh hangat. Kekasihnya telah menyiapkan teh itu dengan takaran gula pasir yang pas dengan seleranya.
Meja itu berbentuk persegi panjang. Pada bagian sisi meja yang lebih pendek, masing-masing terdapat kursi yang menghadap ke sungai. Di kursi itulah mereka biasa mengobrol berdua hingga matahari naik sejengkal. Suara air sungai mengiringi obrolan mereka tiap pagi.
Pertemuannya diawali dengan mencium tangan kekasihnya yang menunggu di pintu pagar. Beberapa detik kemudian, kekasihnya akan menggandengnya-kadang menggendongnya-menuju kursi. Pada saat itu, biasanya ada tawa. Lalu saat sama-sama duduk di kursi masing-masing, mereka saling pandang dalam waktu yang tak tentu. Kadang lama, kadang sebentar. Menurut kekasihnya, kesetiaan seseorang bisa dilihat dari garis-garis yang terdapat pada bola matanya. Ia berusaha percaya, sekalipun belum bisa menerjemah apa yang dilihat di mata kekasihnya. Percakapan mereka akan dimulai setelah sesi saling pandang usai.
“Kamu perempuan setia. Aku tak salah memilihmu,” kata kekasihnya setelah memandang matanya di suatu pagi. Waktu itu pagar rumah hanya setinggi anak kecil. Ketika memandang ke depan, aliran sungai yang cukup deras dapat mereka tangkap dengan jelas. Suara air sungai terdengar hingga pekarangan rumah. “Kalau aku, menurutmu gimana?” lanjutnya.
“Sama, kamu juga begitu. Aku bisa membacanya pada garis matamu pagi ini.”
Laki-laki itu tertawa. “Aku senang kamu sudah bisa membaca garis mata. Dengan begitu, aku tidak bisa bohong padamu. Karena percuma, bohongpun kamu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Perempuan itu tersenyum lalu mengambil teh hangat di meja dan meminumnya. Air teh itu ia diamkan sebentar di mulutnya sebelum akhirnya ditelan perlahan.
“Gulanya berapa sendok?” tanya perempuan itu. Aromanya menguap. Sebagian masuk pada dua lubang hidungnya. Sebagian lagi terbang ke langit, menyatu dengan awan.
“Satu sendok, sesuai seleramu.”
“Rasanya terlalu manis. Seperti bukan satu sendok.”
“Sungguh? Atau mungkin ketukar dengan punyaku?” Kekasihnya memberikan gelas yang hampir diminumnya. “Belum diminum kok. Tidak ada bekas bibirku pada bibir gelas itu.”
“Meski ada, aku akan tetap meminumnya.”
“Tidak jijik?”
“Tadi malam saat makan di Kedai HK, kamu menyuapiku dengan sendok yang sebelumnya masuk pada mulutmu. Dan aku tidak menolaknya bukan?”
Kekasihnya tersenyum. “Oh ya, hari bahagia itu sudah tinggal delapan hari lagi. Setelah itu kita akan resmi menjadi pasangan suami istri,” kata kekasihnya.
“Satu tahun setelah pernikahan, kita akan punya anak.”
“Aku tak ingin punya anak.”
“Lho kenapa?”
“Biar seluruh kasih sayangmu kamu curahkan padaku.”
“Aku tak akan mengurangi kadar cinta dan kasih sayangku padamu sekalipun nanti kita punya anak.  Akan kumunculkan cinta dan kasih baru di hatiku lalu kuberikan pada anak kita.”
Kekasihnya diam. Seperti berpikir atau mungkin sedang berusaha menghilangkan pikiran buruk di otaknya tentang suami yang bunuh diri gara-gara kehilangan kasih sayang istrinya setelah istrinya melahirkan anak yang lucu. “Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Meski aku kurang suka, kita miliki anak. Tapi satu saja.”
“Anak itu bukti cinta kita, Sayang.”
Kekasihnya menatap mata perempuan itu. Mencoba percaya, namun tidak bisa.
“Matahari sudah meninggi. Kamu pulang saja!” kata kekasihnya.
“Kamu mengusirku?” nadanya meninggi. Rona wajahnya berubah kusam. Alisnya terangkat satu sentimeter dari posisi semula.
“Oh tidak. Kalau kamu masih mau di sini, aku temani,” suara kekasihnya dibuat mendayu-dayu. Berharap perempuan itu mengakhiri marahnya.
“Tapi bahasamu tadi tidak seperti itu. Aku tahu maksudmu. Ya sudah, aku pulang saja,” ujarnya. Ia berdiri lalu pergi meninggalkan kekasihnya.
“Bukan itu maksudku, Sayang. Ah... Kamu hari ini gampang marah. Harusnya kita tidak bertengkar gara-gara hal sepele,” kekasihnya setengah berteriak. Maklum perempuan itu sudah berada di halaman rumahnya, sementara laki-laki itu masih duduk di kursi.
Pagi itu, pertama kalinya tak ada adegan cium tangan calon suami ketika hendak  pulang. Dan di langit, setelah kemarau melanda kota itu, awan mulai menggumpal, langit berwarna gelap. Kalau Tuhan mengizinkan, di musim kemarau tahun ini, pertama kalinya hujan akan turun.
*****
“Sejak kapan ada laki-laki lain di hatimu, Tutik?” Pertanyaan kekasihnya seperti pukulan yang diarahkan tepat pada ulu hatinya. Kemampuan kekasihnya membaca garis-garis kecil di mata, terbukti benar.
Ia jadi ingat laki-laki yang menolongnya tempo hari. Hujan waktu itu cukup deras. Sementara ia harus cepat-cepat pulang untuk menyelamatkan lembaran skripsi yang berserakan di atas meja di teras rumah. Sangat mungkin udara yang bertiup kencang akan membawa lembaran-lembaran itu ke halaman rumah. Dan dalam hitungan detik, hujan akan membasahinya.
Dalam pikiran yang carut-marut, tiba-tiba sebuah mobil warna putih berhenti di depan toko tempat ia berteduh. Kaca mobil terbuka. Laki-laki berkaca mata setengah berteriak memanggil namanya. Tidak, laki-laki itu tidak mengajaknya. Ia hanya memberinya sebuah payung melalui kaca mobil. Kemudian berlalu begitu saja.
Di trotoar, ia berjalan sambil ditemani butiran hujan. Pandangannya tidak terlalu terganggu. Ia bisa menangkap beberapa mobil yang berjalan begitu lambat di sampingnya. Begitu juga sepeda motor yang pengendaranya menggunakan jas hujan. Mereka seperti tak ingin cepat-cepat sampai ke tujuan masing-masing. Bisa jadi mereka sangat menikmati hujan yang turun pagi itu.
Ia terkejut ketika orang-orang yang ia temui di trotoar menggunakan payung yang sama. Begitu juga orang-orang yang berdiri, berkumpul di bawah pohon asam. Dari jauh mereka tampak seperti jamur.
“Zein, kamu benar-benar baik. Tak hanya padaku sebagai mantanmu, tetapi juga pada warga yang tak kamu kenal,” gumamnya.
“Kamu pulang saja jika pikiranmu tidak ada di sini!” laki-laki yang duduk di sampingnya menyadarkan lamunannya. Ia terkejut lalu menyeruput teh hangat yang semestinya diminum kekasihnya. “Kamu memikirkan siapa?”
“Tidak, Sayang. Aku hanya kepikiran skripsi yang perlu direvisi.”
“Pernikahan kita sudah tinggal tiga hari lagi. Mestinya kamu tinggalkan segala aktifitas yang tidak ada hubungannya dengan acara pernikahan kita.”
“Aku kurang suka kamu mengaturku seperti itu. Aku tahu mana yang harus dikerjakan mana yang tidak.”
“Jadi menurutmu, memikirkan laki-laki lain bagian yang harus kamu kerjakan? Sepertinya kamu sudah tidak mencintaiku lagi.”
 “Aku sangat mencintaimu, Sayang. Kamu tidak perlu meragukan hal itu!”
“Gimana aku tidak ragu kalau sikapmu seperti ini. Sebentar lagi kita akan menikah. Kuharap tidak ada secuilpun yang kamu tutupi diantara kita!”
Perempuan itu diam sebelum meraih teh yang tak lagi hangat dan meminumnya hingga habis. “Baiklah, kuceritakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin kuceritakan padamu.” Perempuan itu menelan ludahnya beberapa kali. Pandangannya ke depan dengan kedipan mata lebih cepat dari biasanya. “Lima hari yang lalu, saat aku pulang dari sini, aku ketemu dengan Zein. Waktu itu hujan turun lebat sekali. Ia memberiku payung saat aku berteduh di depan toko. Lalu malamnya, setangkai bunga mawar dan secarik kertas tergeletak di meja. Di kertas itu, terdapat tulisan ‘Aku sangat mencintaimu, Tutik’ sama seperti yang biasa kuterima dari Zein saat ia masih jadi pacarku dulu.”
Perempuan itu mengeluarkan secarik kertas merah jambu dan memberikannya pada kekasihnya. Sesaat kekasihnya membacanya, lalu kertas itu ia lipat perlahan dan dimasukkan pada saku celana bagian belakang.
“Tadi ia mengantarku ke sini,” katanya.
“Kamu mencintainya?”
“Awalnya hanya kepikiran hingga malamnya membuatku susah tidur. Kamu tahu kan, aku lima tahun pacaran dengannya. Sulit melupakan kenangan-kenangan indah bersamanya.”
“Sekarang kamu mencintainya?” tanya laki-laki itu.
“Entahlah. Aku hanya merasa menyesal dulu minta putus.”
“Aku tanya sekali lagi, apakah kamu mencintainya?”
“Sepertinya begitu, aku mencintainya,” perempuan itu menjawab dengan wajah tertunduk. “Tapi aku juga mencintaimu,” lanjutnya.
Beberapa menit kemudian, mereka diam. Disaat tak ada suara, laki-laki itu mencuri pandang, melihat wajah perempuan yang merunduk seperti minta belas kasih. Napas laki-laki itu lebih cepat dari biasanya. Tiba-tiba ia melangkahkan kakinya. Menjauh. Namun perempuan itu berhasil menangkap tangan kirinya. “Kamu mau kemana? Maafkan aku telah membuatmu kecewa.”
“Aku mau ke dapur sebentar. Kubuatkan teh dingin untukmu. Kita habiskan pagi ini dengan minum teh hingga matahari naik sejengkal.”
“Kamu marah?”
“Tidak, Sayang. Aku malah senang kamu telah jujur padaku.”
“Benaran kamu tidak marah?”
“Benar. Kamu tunggu sebentar ya!”
Tanpa menunggu jawaban, laki-laki itu pergi meninggalkan perempuan itu. Senyum manis berusaha ia bentuk di bibirnya saat kekasihnya melangkah pergi.
Perempuan itu menunggu lama sekali. Ia mulai tak betah duduk di kursi. Berdiri, berjalan mondar-mandir di teras rumah, lalu duduk lagi. Sesekali ia arahkan wajahnya pada aliran air sungai.
“Maaf sudah menunggu lama, Sayang,” kekasihnya datang membawa segelas teh.
“Tidak apa-apa,” katanya sumringah. “Kok hanya satu, untukmu mana?”
“Di dapur gulanya habis. Ini buat kamu saja.”
Perempuan itu meraih teh itu lalu meneguknya sampai habis.
“Rasanya sedikit aneh,” komentarnya. Kekasihnya tidak menyahut. Ia hanya tersenyum.
Dua detik berikutnya, perempuan itu terbatuk-batuk dan mencengkram lehernya. Wajahnya sedikit demi sedikit merunduk lalu tersungkur di atas meja.
“Perempuan yang membagi cintanya pada dua laki-laki, memang sepantasnya dilenyapkan dari muka bumi ini,” ujar laki-laki itu diikuti senyum sinis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar