Jumat, 02 Maret 2018

Kesenian Ghulghul Sebagai Pemersatu Dan Geliat Ekonomi Masyrakat

Bukan indonesia namanya jika tidak memiliki ragam budaya, kesenian, bahasa dan pulau – pulau. Keragaman tersebut menjadi aset bangsa yang harus kita jaga dan lestrikan.
Salah satunya indonesia memiliki ratusan bahkan jutaan kesenian tradisional yang tersebar diseluruh nusantara ini, bahkan ada yang terkenal ke suluruh dunia seperti kesianan Madura yaitu Karapan Sapi , atau Reog Ponorogo yang sempat diklaim oleh malaysia sebagai kesenian asli Malysia.
Di Madura saja, memiliki  banyak kesenian -kesenian tradisional karena di setiap daerah pasti memiliki kesenian tradisional.
Di Desa Rombiya Timur , ada kesenian tradisional yang sebenarnya sudah populer di era 80an – 90an dan sekarang bangkit lagi berupa kesenian tradisional Ghulghul.Entah apa arti atau filosofi dari nama ghulghul ini, karena belum ada keterangan resmi dari pelaku sejarah atau saksi.
Ghulghul merupakan kesenian khas Sumenep Madura yang menampilkan berbagai macam aksi seperti pencak silat, tarian tradisional (istra), can macanan, atau humor (lawak), kalau saya boleh menyebut Ludruk mini.
Semua aksi yang diperagakan baik itu pencak silat atau tarian – tarian, semua itu diiringi oleh musik tradisional khas Sumenep yaitu semacam saronin, dengan menggunakan alat seperti gendang, gamelan, kennong, klenangan. Sehingga dengan perpaduan alat musik tersebut dapat menghasilkan alunan musik yang merdu.
Pencak silat selain sebagai salah satu cara kita untuk bela diri, maka pencak silat juga dapat berfungsi untuk menghibur masyrakat.
Jenis pencak silat di indonesia sangat banyak, tapi yang lumrah digunakan di Rombiya Timur ini adalah aliran cemandi dan Pamor. Cimandi sendiri merupakan Salah satu pencak silat tertua di Indonesia yang gerakannya banyak diadopsi oleh berbagai perguruan silat di Indonesia.
Sementara Pamor,  merupakan perguruan silat yang didirikan oleh Raden Hasan Habudin pada tanggal 31 desember 1951 Di Pamekasan Madura. Perguruan ini mengandalkan rasio sebagai unsur utamanya.
Konsep kesenian ghulghul ini sistemnya bergilran atau pindah – pindah, artinya setiap anggota memiliki kesempatan untuk menjadi tuan rumah (Nanghé) dan waktunya ditentukan yaitu satu minggu satu kali.
Kebangkitan kesenian tradisional ini merupakan nilai positif bagi masyrakat, karena generasi muda kita sudah jarang yang mau peduli terhadap kesenian atau budaya lokal. Mereka terjajah oleh  globalisasi, dimana era ini selalu bersentuhan dengan tekhnologi canggih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar