Bukan indonesia namanya jika
tidak memiliki ragam budaya, kesenian, bahasa dan pulau – pulau. Keragaman
tersebut menjadi aset bangsa yang harus kita jaga dan lestrikan.
Salah
satunya indonesia memiliki ratusan bahkan jutaan kesenian tradisional yang
tersebar diseluruh nusantara ini, bahkan ada yang terkenal ke suluruh dunia
seperti kesianan Madura yaitu Karapan Sapi , atau Reog Ponorogo yang sempat
diklaim oleh malaysia sebagai kesenian asli Malysia.
Di
Madura saja, memiliki banyak kesenian
-kesenian tradisional karena di setiap daerah pasti memiliki kesenian
tradisional.
Di Desa
Rombiya Timur , ada kesenian tradisional yang sebenarnya sudah populer di era
80an – 90an dan sekarang bangkit lagi berupa kesenian tradisional
Ghulghul.Entah apa arti atau filosofi dari nama ghulghul ini, karena belum ada
keterangan resmi dari pelaku sejarah atau saksi.
Ghulghul
merupakan kesenian khas Sumenep Madura yang menampilkan berbagai macam aksi
seperti pencak silat, tarian tradisional (istra), can macanan, atau humor
(lawak), kalau saya boleh menyebut Ludruk mini.
Semua
aksi yang diperagakan baik itu pencak silat atau tarian – tarian, semua itu
diiringi oleh musik tradisional khas Sumenep yaitu semacam saronin, dengan
menggunakan alat seperti gendang, gamelan, kennong, klenangan. Sehingga dengan
perpaduan alat musik tersebut dapat menghasilkan alunan musik yang merdu.
Pencak
silat selain sebagai salah satu cara kita untuk bela diri, maka pencak silat
juga dapat berfungsi untuk menghibur masyrakat.
Jenis
pencak silat di indonesia sangat banyak, tapi yang lumrah digunakan di Rombiya
Timur ini adalah aliran cemandi dan Pamor. Cimandi sendiri merupakan Salah satu
pencak silat tertua di Indonesia yang gerakannya banyak diadopsi oleh berbagai
perguruan silat di Indonesia.
Sementara
Pamor, merupakan perguruan silat yang didirikan oleh Raden Hasan Habudin
pada tanggal 31 desember 1951 Di Pamekasan Madura. Perguruan ini mengandalkan
rasio sebagai unsur utamanya.
Konsep
kesenian ghulghul ini sistemnya bergilran atau pindah – pindah, artinya setiap
anggota memiliki kesempatan untuk menjadi tuan rumah (Nanghé) dan waktunya
ditentukan yaitu satu minggu satu kali.
Kebangkitan
kesenian tradisional ini merupakan nilai positif bagi masyrakat, karena
generasi muda kita sudah jarang yang mau peduli terhadap kesenian atau budaya
lokal. Mereka terjajah oleh globalisasi, dimana era ini selalu
bersentuhan dengan tekhnologi canggih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar