Selasa, 06 Februari 2018

PURNAMA SEBULAN DI DESA KAMI


PURNAMA SEBULAN DI DESA KAMI
*Muhtadi Chasbien

Hasil gambar untuk bulan purnamaKami dikejutkan oleh purnama yang muncul tiap malam selama sebulan di desa kami. Purnama itu baru usai tiga malam yang lalu. Aku tidak tahu apakah akan muncul kembali nanti malam, atau akan muncul sebulan sekali seperti biasanya. Entahlah. Aku justru khawatir, purnama itu tak akan muncul lagi setelah kemunculannya tiap malam selama satu bulan.
Di berbagai tempat di desa kami, kemunculannya menjadi topik yang selalu diperbincangkan. Di masjid, di sekolah, di balai desa, di warung kopi, orang-orang tak henti-hentinya membicarakannya. Bahkan suami-istri yang biasa ngobrol tentang barang-barang dan sembako yang semakin naik, meraka selipkan obrolan mengenai purnama.
 “Karena kekasihnya yang penyuka purnama sedang ulang tahun, ia datangkan purnama sebulan penuh.” Begitu cerita yang berkembang dan dipercaya oleh sebagian warga. Sebagian lagi percaya, bahwa itu pertanda kiamat akan segera datang.   
Di sebuah pagi, di sebuah warung, aku melihat dua orang mahasiswa duduk di pojokan. “Apa kau melihatnya saat ia mendatangkan purnama?” seorang laki-laki berambut kriting melontarkan pertanyaan pada teman di sebelahnya. Matanya melotot seperti hendak keluar. Aku tahu mereka berteman. Beberapa kali aku melihat mereka berboncengan mengendari sepeda motor warna merah.
“Tidak pernah, Kak.”
“Kalau tidak pernah, kenapa kau selalu cerita kepada warga bahwa munculnya purnama sebulan gara-gara permintaan seorang perempuan pada kekasihnya?”
“Di sini, dia yang pertama kali cerita seperti itu. Saat itu, warung penuh dengan pembeli. Sebagian besar mereka percaya. Aku rasa status mahasiswa pada dirinya telah membuat warga percaya dengan ucapannya,” penjual kopi menimpali pembicaraan mereka sambil memberikan secangkir kopi padaku.
“Sebagai kaum akademik, kita tidak bisa membodohi masyarakat dengan jawaban yang dibuat-buat. Ini perlu penelitian.”
“Aku tak pernah buat-buat. Temanku yang menceritakannya padaku. Dan aku percaya, bahwa dialah yang telah melakukannya.”
Piyar... Laki-laki berambut kriting menggebrak meja kuat-kuat. Wajahnya memerah. “Sudah, sudah. Sebagai senior, aku kecewa padamu,” ia membentaknya sambil menunjuk-nunjuk wajah temannya lalu keluar menuju motornya, meninggalkan laki-laki itu di warung.
“Tentu aku tak mungkin menceritakan semuanya padamu, Kak,” ucapnya pelan. Lalu laki-laki itu juga keluar setelah memberikan uang pada penjual kopi. Dengan hati-hati dan tanpa sepengetahuannya, aku ikuti langkahnya.
*****
Rumahnya biasa saja, sama dengan rumah warga, tidak terlalu besar. Namun ada pagar besi mengelilingi rumahnya setinggi orang dewasa. Pintu pagar juga terbuat dari besi. Gembok sebesar kepalan tangan, menggantung di sana. Aku tidak langsung masuk ke rumah itu. Menunggunya masuk ke dalam rumahnya hingga setengah jam.
Butuh tiga kali panggil salam untuk mendapatkan jawaban penghuninya. Lalu ia keluar menggunakan kaos lengan pendek warna hitam, sarung kotak-kotak, songkok anyaman mirip songkok mantan presiden Gusdur yang di gunakan saat menemui pendukungnya di Istana Presiden diakhir jabatannya. Yang melekat ditubuhnya sama seperti yang ia gunakan saat di warung tadi.
“Perlu sama siapa?” katanya setelah kami duduk.
“Perlu sama kamu,” jawabku. Ia tersenyum. Sepertinya ia paham maksud kedatanganku.
“Kamu orang mana?”
“Rombiya Timur. Desa yang beberapa malam yang lalu dikejutkan dengan kemunculan purnama sebulan penuh.”
Ia tertawa pelan. Beberapa saat kemudian, seorang perempuan datang menghampiri kami, membawa dua cangkir kopi dan setengah toples kue kering. Obrolan kami berhenti sebentar hingga perempuan yang kuyakini istrinya masuk kembali meninggalkan kami.
“Aku suka desamu. Bukan karena munculnya purnama itu. Jauh-jauh hari sebelum munculnya purnama, aku sudah menyukainya. Di kecamatan ini, hanya di desamu yang terdapat sumber mata air yang airnya tak habis-habis meski digunakan mengairi sawah se-kecamatan. Jika kemarau tiba, seluruh warga se-kecamatan mengambil air menggunakan mobil pick up yang bagian belakang mobil diampari terpal. Di bagian selatan, terdapat bukit yang mirip lidah orang. Kalau malam tiba, kunang-kunang akan hinggap dan memenuhi bukit itu. Indah sekali. Aku tak tahu, apakah gara-gara kunang-kunang itu hingga perempuan-perempuan di desamu cantik-cantik,” katanya diikuti tawa.
 “Mengenai sumber mata air, aku sering mandi di sana. Tapi kalau bukit yang dipenuhi kunang-kunang, aku baru mendengarnya sekarang.”
“Kamu pindahan?”
“Ya. Aku baru tinggal sebulan tujuh hari setelah memperistri orang sana.”
“Aku juga ingin menjadi warga sana. Kalau itu terjadi, aku ingin desa itu menggunakan penerangan dari cahaya purnama, bukan menggunakan lampu PLN seperti sekarang. Jalan-jalan dihiasi cahaya purnama yang berjejer tiap tujuh meter. Warga mau ngaji menggunakan cahaya purnama yang digantung di teras rumah. Pokoknya hal-hal yang membutuhkan cahaya, nanti menggunakan cahaya purnama.”
“Mustahil.”
Ia tersenyum seperti tidak peduli aku percaya atau tidak.
Kopi di atas meja, aku minum. Lalu ia membuka toples dan menyodorkannya padaku. Aku mengambilnya sepotong kue kering dan memakannya.
“Tak ada yang mustahil di dunia ini termasuk mendatangkan purnama sebulan penuh,” katanya.
 “Karena kemunculan purnama itulah aku datang padamu. Sebab menurut warga, kamulah yang menceritakan pertama kali kalau munculnya purnama sebulan disebabkan permintaan seorang perempuan pada kekasihnya.”
“Andai warga tak bertanya padaku tentang penyebab munculnya, aku tak akan pernah cerita,” katanya sambil menatap mataku. Lalu ia mengajakku ke kamarnya.
Di kamar itu tak ada benda lain kecuali sebuah kardus yang terletak di lantai, di pojok barat daya. Kardus itu berbentuk kubus dengan panjang sisinya hanya satu meter.
“Bulan purnama yang kemarin menyinari desamu berada dalam kardus itu,” katanya sambil menunjuk kardus. “Itu permintaan kekasihku sebagai kado ulang tahunnya yang ke sembilan belas. Orang-orang boleh tidak percaya termasuk kamu. Dan aku tak akan memaksanya untuk percaya karena tidak ada gunanya orang-orang percaya atau tidak,” lanjutnya.
Ia membuka kardus itu perlahan. Awalnya muncul sinar redup dari dalam kardus. Lama-kelaman semakin terang dan membentuk sinar melingkar berwarna jingga di atap kamar.
Aku menghampiri kardus itu dan melihat benda yang berada di dalamnya. Sumpah, itu benar-benar bulan. Meski aku melihatnya dari jarak dekat, sinarnya tidak membuat mata pedih dan silau. Sinarnya menyejukkan, seperti saat memandangi senja.
Bulan itu ukurannya kecil hanya sebesar bola kaki, tidak seperti yang kubaca di buku yang katanya memiliki diameter 3.476 km. “Dari jarak berapapun kamu melihatnya, besarnya akan sama. Bukan semakin jauh akan semakin kecil atau semakin dekat akan semakin besar. Itu salah,” ujarnya.
“Bagaimana caranya agar ia naik ke langit?” tanyaku kemudian.
Ia keluar kamar menuju teras rumah tempat dimana kami ngobrol tadi. “Akan naik dengan sendirinya.”
“Berarti kamulah laki-laki yang telah memunculkan purnama itu?”
“Betul.”
“Lalu dimana kekasihmu? Apa mungkin perempuan yang membawa kopi tadi?”
“Bukan, ia adikku. Kekasihku adalah istri laki-laki yang memarahiku di warung tadi,” katanya. “Laki-laki mata keranjang seperti dia tak pantas jadi suaminya,” ia melanjutkan kalimat yang tertahan atau mungkin sengaja ditahan.
“Kok bisa?”
“Aku sahabatnya. Jadi, aku tahu berapa banyak perempuan yang jadi selingkuhannya. Tapi, kemungkinan besar mereka akan berpisah. Sebab kekasihku bilang, kalau aku bisa mendatangkan senja, pelangi, dan purnama di kamarnya bersama-sama selama dua belas jam, ia akan menceraikan suaminya,” katanya mengakhiri perbincangan kami hari itu.
Seminggu berikutnya, aku melihat laki-laki berambut kriting duduk termenung di warung sendirian. Di depannya terdapat map warna kuning. Lalu ia buka map itu dan mengambil selembar kertas di dalamnya. dirobek lalu dimakan. Ia memakan kertas itu layaknya memakan roti sisir yang biasa dijual di warung kopi seharga lima ratus rupiah.
Kata pemilik warung, ia stres gara-gara dicerai istrinya.


MUHTADI CHASBIEN. Lahir di Sumenep tepatnya di desa Rombiya Timur 24 tahun silam. Mantan aktifis LPM Retorika itu, kini menjadi manusia biasa setelah sebelumnya hanya menjadi mahasiswa biasa di UBI Banyuwangi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar