PURNAMA SEBULAN DI DESA
KAMI
*Muhtadi Chasbien
Di berbagai tempat di
desa kami, kemunculannya menjadi topik yang selalu diperbincangkan. Di masjid,
di sekolah, di balai desa, di warung kopi, orang-orang tak henti-hentinya membicarakannya.
Bahkan suami-istri yang biasa ngobrol tentang barang-barang dan sembako yang
semakin naik, meraka selipkan obrolan mengenai purnama.
“Karena kekasihnya yang penyuka purnama sedang
ulang tahun, ia datangkan purnama sebulan penuh.” Begitu cerita yang berkembang
dan dipercaya oleh sebagian warga. Sebagian lagi percaya, bahwa itu pertanda
kiamat akan segera datang.
Di sebuah pagi, di
sebuah warung, aku melihat dua orang mahasiswa duduk di pojokan. “Apa kau
melihatnya saat ia mendatangkan purnama?” seorang laki-laki berambut kriting
melontarkan pertanyaan pada teman di sebelahnya. Matanya melotot seperti hendak
keluar. Aku tahu mereka berteman. Beberapa kali aku melihat mereka berboncengan
mengendari sepeda motor warna merah.
“Tidak pernah, Kak.”
“Kalau tidak pernah,
kenapa kau selalu cerita kepada warga bahwa munculnya purnama sebulan gara-gara
permintaan seorang perempuan pada kekasihnya?”
“Di sini, dia yang
pertama kali cerita seperti itu. Saat itu, warung penuh dengan pembeli.
Sebagian besar mereka percaya. Aku rasa status mahasiswa pada dirinya telah
membuat warga percaya dengan ucapannya,” penjual kopi menimpali pembicaraan
mereka sambil memberikan secangkir kopi padaku.
“Sebagai kaum akademik,
kita tidak bisa membodohi masyarakat dengan jawaban yang dibuat-buat. Ini perlu
penelitian.”
“Aku tak pernah buat-buat.
Temanku yang menceritakannya padaku. Dan aku percaya, bahwa dialah yang telah
melakukannya.”
Piyar... Laki-laki
berambut kriting menggebrak meja kuat-kuat. Wajahnya memerah. “Sudah, sudah. Sebagai
senior, aku kecewa padamu,” ia membentaknya sambil menunjuk-nunjuk wajah
temannya lalu keluar menuju motornya, meninggalkan laki-laki itu di warung.
“Tentu aku tak mungkin menceritakan
semuanya padamu, Kak,” ucapnya pelan. Lalu laki-laki itu juga keluar setelah
memberikan uang pada penjual kopi. Dengan hati-hati dan tanpa sepengetahuannya,
aku ikuti langkahnya.
*****
Rumahnya biasa saja,
sama dengan rumah warga, tidak terlalu besar. Namun ada pagar besi mengelilingi
rumahnya setinggi orang dewasa. Pintu pagar juga terbuat dari besi. Gembok
sebesar kepalan tangan, menggantung di sana. Aku tidak langsung masuk ke rumah
itu. Menunggunya masuk ke dalam rumahnya hingga setengah jam.
Butuh tiga kali panggil
salam untuk mendapatkan jawaban penghuninya. Lalu ia keluar menggunakan kaos
lengan pendek warna hitam, sarung kotak-kotak, songkok anyaman mirip songkok
mantan presiden Gusdur yang di gunakan saat menemui pendukungnya di Istana
Presiden diakhir jabatannya. Yang melekat ditubuhnya sama seperti yang ia
gunakan saat di warung tadi.
“Perlu sama siapa?”
katanya setelah kami duduk.
“Perlu sama kamu,”
jawabku. Ia tersenyum. Sepertinya ia paham maksud kedatanganku.
“Kamu orang mana?”
“Rombiya Timur. Desa
yang beberapa malam yang lalu dikejutkan dengan kemunculan purnama sebulan
penuh.”
Ia tertawa pelan. Beberapa
saat kemudian, seorang perempuan datang menghampiri kami, membawa dua cangkir kopi
dan setengah toples kue kering. Obrolan kami berhenti sebentar hingga perempuan
yang kuyakini istrinya masuk kembali meninggalkan kami.
“Aku suka desamu. Bukan
karena munculnya purnama itu. Jauh-jauh hari sebelum munculnya purnama, aku
sudah menyukainya. Di kecamatan ini, hanya di desamu yang terdapat sumber mata
air yang airnya tak habis-habis meski digunakan mengairi sawah se-kecamatan.
Jika kemarau tiba, seluruh warga se-kecamatan mengambil air menggunakan mobil pick
up yang bagian belakang mobil diampari terpal. Di bagian selatan, terdapat
bukit yang mirip lidah orang. Kalau malam tiba, kunang-kunang akan hinggap dan
memenuhi bukit itu. Indah sekali. Aku tak tahu, apakah gara-gara kunang-kunang
itu hingga perempuan-perempuan di desamu cantik-cantik,” katanya diikuti tawa.
“Mengenai sumber mata air, aku sering mandi di
sana. Tapi kalau bukit yang dipenuhi kunang-kunang, aku baru mendengarnya
sekarang.”
“Kamu pindahan?”
“Ya. Aku baru tinggal
sebulan tujuh hari setelah memperistri orang sana.”
“Aku juga ingin menjadi
warga sana. Kalau itu terjadi, aku ingin desa itu menggunakan penerangan dari
cahaya purnama, bukan menggunakan lampu PLN seperti sekarang. Jalan-jalan
dihiasi cahaya purnama yang berjejer tiap tujuh meter. Warga mau ngaji
menggunakan cahaya purnama yang digantung di teras rumah. Pokoknya hal-hal yang
membutuhkan cahaya, nanti menggunakan cahaya purnama.”
“Mustahil.”
Ia tersenyum seperti
tidak peduli aku percaya atau tidak.
Kopi di atas meja, aku
minum. Lalu ia membuka toples dan menyodorkannya padaku. Aku mengambilnya
sepotong kue kering dan memakannya.
“Tak ada yang mustahil
di dunia ini termasuk mendatangkan purnama sebulan penuh,” katanya.
“Karena kemunculan purnama itulah aku datang
padamu. Sebab menurut warga, kamulah yang menceritakan pertama kali kalau
munculnya purnama sebulan disebabkan permintaan seorang perempuan pada
kekasihnya.”
“Andai warga tak
bertanya padaku tentang penyebab munculnya, aku tak akan pernah cerita,”
katanya sambil menatap mataku. Lalu ia mengajakku ke kamarnya.
Di kamar itu tak ada
benda lain kecuali sebuah kardus yang terletak di lantai, di pojok barat daya. Kardus
itu berbentuk kubus dengan panjang sisinya hanya satu meter.
“Bulan purnama yang
kemarin menyinari desamu berada dalam kardus itu,” katanya sambil menunjuk
kardus. “Itu permintaan kekasihku sebagai kado ulang tahunnya yang ke sembilan
belas. Orang-orang boleh tidak percaya termasuk kamu. Dan aku tak akan
memaksanya untuk percaya karena tidak ada gunanya orang-orang percaya atau
tidak,” lanjutnya.
Ia membuka kardus itu
perlahan. Awalnya muncul sinar redup dari dalam kardus. Lama-kelaman semakin
terang dan membentuk sinar melingkar berwarna jingga di atap kamar.
Aku menghampiri kardus
itu dan melihat benda yang berada di dalamnya. Sumpah, itu benar-benar bulan. Meski
aku melihatnya dari jarak dekat, sinarnya tidak membuat mata pedih dan silau. Sinarnya
menyejukkan, seperti saat memandangi senja.
Bulan itu ukurannya
kecil hanya sebesar bola kaki, tidak seperti yang kubaca di buku yang katanya memiliki
diameter 3.476 km. “Dari jarak berapapun kamu melihatnya, besarnya akan sama.
Bukan semakin jauh akan semakin kecil atau semakin dekat akan semakin besar.
Itu salah,” ujarnya.
“Bagaimana caranya agar
ia naik ke langit?” tanyaku kemudian.
Ia keluar kamar menuju
teras rumah tempat dimana kami ngobrol tadi. “Akan naik dengan sendirinya.”
“Berarti kamulah
laki-laki yang telah memunculkan purnama itu?”
“Betul.”
“Lalu dimana kekasihmu?
Apa mungkin perempuan yang membawa kopi tadi?”
“Bukan, ia adikku. Kekasihku
adalah istri laki-laki yang memarahiku di warung tadi,” katanya. “Laki-laki
mata keranjang seperti dia tak pantas jadi suaminya,” ia melanjutkan kalimat
yang tertahan atau mungkin sengaja ditahan.
“Kok bisa?”
“Aku sahabatnya. Jadi,
aku tahu berapa banyak perempuan yang jadi selingkuhannya. Tapi, kemungkinan
besar mereka akan berpisah. Sebab kekasihku bilang, kalau aku bisa mendatangkan
senja, pelangi, dan purnama di kamarnya bersama-sama selama dua belas jam, ia
akan menceraikan suaminya,” katanya mengakhiri perbincangan kami hari itu.
Seminggu berikutnya,
aku melihat laki-laki berambut kriting duduk termenung di warung sendirian. Di
depannya terdapat map warna kuning. Lalu ia buka map itu dan mengambil selembar
kertas di dalamnya. dirobek lalu dimakan. Ia memakan kertas itu layaknya memakan
roti sisir yang biasa dijual di warung kopi seharga lima ratus rupiah.
Kata pemilik warung, ia
stres gara-gara dicerai istrinya.
MUHTADI CHASBIEN. Lahir
di Sumenep tepatnya di desa Rombiya Timur 24 tahun silam. Mantan aktifis LPM
Retorika itu, kini menjadi manusia biasa setelah sebelumnya hanya menjadi
mahasiswa biasa di UBI Banyuwangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar