MOZAIK GERAK DAN LANGKAH
FORMART
OLEH. ABDUS SALAM
Sekretaris Dewan Pimpinan
Daerah (DPD) Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) Jawa Timur
Jauh dari apa yang saya
bayangkan, 14 tahun yang lalu. Tahun 2004 lalu saat saya semester 8 di kampus putih
UMM. Waktu itu saya menjadi pengurus cabang IMM Malang, ketua bidang HIKMAH/
Politik, Senat Mahahasiswa Universitas dan aktif di Organisasi Non Pemerintah
Malang Corruption Watch (MCW). Di musim liburan, untuk mengisi waktu senggang,
saya dan teman-teman, Suhdi, Muhdi, Muhlis, Habibullah, Ismael, Sukriyanto, Mas’oedi(Alm)
dan Abd. Rahman, menggagas perkumpulan yang diberi nama Formart. Waktu itu yang
menjadi keperihatinan sosial kami adalah persoalan raskin Itu saja, di samping
isu-isu sosial yag lain yang kerap menjadi kepedihan kami. Kenapa? karena kami
menyadari kuliah adalah hal yang mustahil bagi orang miskin seperti saya.
Antonio Gramsci tentu yang
membakar spirit saya, dengan istilah intelektual organik dan mekanik. Semua
bisa menjadi intelektual, tetapi tak semuanya intelektual yang mampu melahirkan
gerakan dan perubahan sosial. Intelektual yang menggerakkan, mendayung dalam
gerak zaman untuk melahirkan perubahan seolah menjadi hal yang utopis. Tetapi,
Gramsci, Paolo Friere, Hatta, Ali Syariati dan Edward Said yang memprofokasi
agar intelektual tak hanya berpangku tangan melihat realitas sosial yang
marginal dan saya terhipnotis dengan gagasan mereka.
Sekali lagi, saya tidak
pernah membayangkan, usia FORMART, sudah
14 tahun. Tentu secara materi mungkin belum bisa berkontribusi apa-apa kepada
masyarakat, tetapi bagi saya, kebahagian yang tak terbatas karena masih ada
yang mau melanjutkan gagasan dan cita-cita bahwa formart menjadi laboratorium
ilmu pengetahuan dan mengasah rasa empati kepada sesama. Tidak ada langkah
seribu tanpa langkah satu, begitulah yang disampaikan oleh Andrie Wongso,
motivator ulung Indonesia yang tidak tamat Sekolah Dasar. Begitu juga dengan
Formart, perkumpulan yang awalnya sederhana sekarang menggeliat menjadi pelopor
gerakan masyarakat desa bahkan dari 14 desa di Kecamatan Ganding Formart
menjadi denyut nadi gerakan yang tidak bisa ditampik keberadaannya.
Jika dikalkulasi, jumlah
sarjana bahkan master sudah mulai berserak di Desa terpencil ini. Tentu ini
menjadi barometer mengenai perubahan carapandang dan orientasi masyarakat
Rombiya Timur, bahwa pendidikan menjadi salah satu pemutus mata rantai
kemiskinan. Saya tidak akan mengatakan bahwa gara-gara formart lah masyarakat
sadar akan pentingnya pendidikan, sehingga banyak yang berbondong-bondong untuk
sekolah. Tetapi tidak mustahil jika kedepan Formart sudah memikirkan mengenai beasiswa anak-anak yang kurang mampu
untuk melanjutkan studi. Menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar menjadi
keniscayaan bagi gerak dan langkah FORMART
kedepan. Di samping gerakan keilmuan dan kebudayaan yang tidak hanya
terjebak dalam ruang dan kelas yang kadang membosankan, gerakan pemberdayaan
ekonomi tentu menjadi lahan garap yang perlu dipikirkan
Mulailah dari yang kecil
dan dari sekarang, perubahan sosial itu tidak akan lahir tanpa gerakan sosial.
Gerakan sosial itu akan lahir dari komunitas gerakan yang memiliki idealisme
dan mimpi, tanpa itu mustahil itu akan terjadi. Bergerak dan berkumpul bersama
akan menjadi kekuatan dahsyat jika dikelola dengan baik. Meminjam istilah
Sayyidina Ali, kebaikan yang tidak teroganisir, akan kalah dengan kejahatan
yang terorganisir. Nah FORMART tentu harus
menjadi sumbu dalam menggerakan dan menginspirasi masyarakat khususnya
di Rombiya Timur.
Tentu secara fisik saya
tidak berdomisili di Desa Rombiya Timur, tetapi sebisa mungkin bisa
berkontribusi seoptimal mungkin untuk kemajuan dan perkembangan Desa Rombiya
Timur adalah keharusan bagi saya. Tentu dengan caraku. Oleh karena itu, harapan
saya kepada sahabat dan adik-adik menjadikan formart sebagai media berjuang dan
mengabdi semata-mata untuk kemajuan dan perubahan cara berpikir orang Rombiya
Timur menjadi penyemangatnya, karena itu juga termasuk ibadah muammalah.
Saya menyampaikan
terimakasih kepada semua pihak dan adik-adik yang telah meluangkan waktu,
pikiran bahkan materi atas terselenggaranya pelantikan pengurus. Tulisan ini
dibuat di Warung KOPI SOCCER JOMBANG.
Ada pantun untuk pengurus, beli manuk gelatik di pasar Waru, habis
dilantik OJOK TURU
SELAMAT BERJUANG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar