Selasa, 06 Februari 2018

MOZAIK GERAK DAN LANGKAH FORMART

MOZAIK GERAK DAN LANGKAH FORMART
OLEH. ABDUS SALAM
Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) Jawa Timur
Jauh dari apa yang saya bayangkan, 14 tahun yang lalu. Tahun 2004 lalu saat saya semester 8 di kampus putih UMM. Waktu itu saya menjadi pengurus cabang IMM Malang, ketua bidang HIKMAH/ Politik, Senat Mahahasiswa Universitas dan aktif di Organisasi Non Pemerintah Malang Corruption Watch (MCW). Di musim liburan, untuk mengisi waktu senggang, saya dan teman-teman, Suhdi, Muhdi, Muhlis, Habibullah, Ismael, Sukriyanto, Mas’oedi(Alm) dan Abd. Rahman, menggagas perkumpulan yang diberi nama Formart. Waktu itu yang menjadi keperihatinan sosial kami adalah persoalan raskin Itu saja, di samping isu-isu sosial yag lain yang kerap menjadi kepedihan kami. Kenapa? karena kami menyadari kuliah adalah hal yang mustahil bagi orang miskin seperti saya.
Antonio Gramsci tentu yang membakar spirit saya, dengan istilah intelektual organik dan mekanik. Semua bisa menjadi intelektual, tetapi tak semuanya intelektual yang mampu melahirkan gerakan dan perubahan sosial. Intelektual yang menggerakkan, mendayung dalam gerak zaman untuk melahirkan perubahan seolah menjadi hal yang utopis. Tetapi, Gramsci, Paolo Friere, Hatta, Ali Syariati dan Edward Said yang memprofokasi agar intelektual tak hanya berpangku tangan melihat realitas sosial yang marginal dan saya terhipnotis dengan gagasan mereka.
Sekali lagi, saya tidak pernah membayangkan, usia FORMART,  sudah 14 tahun. Tentu secara materi mungkin belum bisa berkontribusi apa-apa kepada masyarakat, tetapi bagi saya, kebahagian yang tak terbatas karena masih ada yang mau melanjutkan gagasan dan cita-cita bahwa formart menjadi laboratorium ilmu pengetahuan dan mengasah rasa empati kepada sesama. Tidak ada langkah seribu tanpa langkah satu, begitulah yang disampaikan oleh Andrie Wongso, motivator ulung Indonesia yang tidak tamat Sekolah Dasar. Begitu juga dengan Formart, perkumpulan yang awalnya sederhana sekarang menggeliat menjadi pelopor gerakan masyarakat desa bahkan dari 14 desa di Kecamatan Ganding Formart menjadi denyut nadi gerakan yang tidak bisa ditampik keberadaannya.
Jika dikalkulasi, jumlah sarjana bahkan master sudah mulai berserak di Desa terpencil ini. Tentu ini menjadi barometer mengenai perubahan carapandang dan orientasi masyarakat Rombiya Timur, bahwa pendidikan menjadi salah satu pemutus mata rantai kemiskinan. Saya tidak akan mengatakan bahwa gara-gara formart lah masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan, sehingga banyak yang berbondong-bondong untuk sekolah. Tetapi tidak mustahil jika kedepan Formart sudah memikirkan  mengenai beasiswa anak-anak yang kurang mampu untuk melanjutkan studi. Menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar menjadi keniscayaan bagi gerak dan langkah FORMART  kedepan. Di samping gerakan keilmuan dan kebudayaan yang tidak hanya terjebak dalam ruang dan kelas yang kadang membosankan, gerakan pemberdayaan ekonomi tentu menjadi lahan garap yang perlu dipikirkan
Mulailah dari yang kecil dan dari sekarang, perubahan sosial itu tidak akan lahir tanpa gerakan sosial. Gerakan sosial itu akan lahir dari komunitas gerakan yang memiliki idealisme dan mimpi, tanpa itu mustahil itu akan terjadi. Bergerak dan berkumpul bersama akan menjadi kekuatan dahsyat jika dikelola dengan baik. Meminjam istilah Sayyidina Ali, kebaikan yang tidak teroganisir, akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir. Nah FORMART tentu harus  menjadi sumbu dalam menggerakan dan menginspirasi masyarakat khususnya di Rombiya Timur.
Tentu secara fisik saya tidak berdomisili di Desa Rombiya Timur, tetapi sebisa mungkin bisa berkontribusi seoptimal mungkin untuk kemajuan dan perkembangan Desa Rombiya Timur adalah keharusan bagi saya. Tentu dengan caraku. Oleh karena itu, harapan saya kepada sahabat dan adik-adik menjadikan formart sebagai media berjuang dan mengabdi semata-mata untuk kemajuan dan perubahan cara berpikir orang Rombiya Timur menjadi penyemangatnya, karena itu juga termasuk ibadah muammalah.
Saya menyampaikan terimakasih kepada semua pihak dan adik-adik yang telah meluangkan waktu, pikiran bahkan materi atas terselenggaranya pelantikan pengurus. Tulisan ini dibuat di Warung KOPI SOCCER JOMBANG.  Ada pantun untuk pengurus, beli manuk gelatik di pasar Waru, habis dilantik OJOK TURU
SELAMAT BERJUANG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar