Satu tahun terakhir ini , Desa Rombiya
Timur, Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep,
ramai dikunjungi warga, tepatnya mereka
adalah para wisatawan lokal yang sengaja
datang untuk mengunjungi wisata desa Tebing Grungungan yang digagas oleh sejumlah
pemuda desa setempat.
Rupanya inisiatif pemuda yang menggagas wisata itu terbilang cukup
berhasil karena mampu menyedot perhatian warga Sumenep, bahkan viral di media social seperti di Facebook,
maupun instagram, beberapa akun media wisata Sumenep seperti Sumenep superhits,
Sumenep Explore sering memposting pengunjung yang berfoto selfi dilokasi
tersebut karena dilokasi juga disediakan
spot foto. Keindahan alam terbuka serta hamparan laut selatan Madura dapat
dinikmati denagan mata telanjang, sehingga inilah salah satu alasan masyarakat teratik untuk berkunjung.
Selain Viral di media social, Keberadaan Tebing Grunggungan juga tidak luput
dari liputan media cetak dan elektronik lokal
Sumenep, seperti Radar Madura, Koran Madura, Portal Madura dan lain – lain. Bahkan
pada tanggal 18 agustus 2018 Tebing Grungan menjadi berita utama atau headline
news di Radar Madura lantaran siswa SMP Islam Al – Atrawiyah melakukan upacara
17 agustus 2017 diloksi tersebut.Gagasan mereka untuk membuat wisata alam ini momenya terbilang cukup
tepat, karena keberadaanya berbarengan dengan program pemerintah Kabupaten
Sumenep yaitu Visit 2018 atau tahun kunjungan, dimana pemkab setempat sedang
mengambakan ekonomi lewat sector wisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah
(PAD). Kesempatan inilah juga mereka mamfaatkan sebagai upaya untuk mendukung
visit Sumenep 2018.
Trio Pemuda
Desa
Siapa Sebenarnya Pemuda Itu sehingga sukses menghantarkan Desa Rombiya
terkenal dengan wisata Tebing Grunggungan?, ada tiga orang menurut saya yang
memiliki peran central dalam pembangunan Tebing Grunggungan , yakni Jaiz, Farisi dan Nasiri mereka adalah warga
sekitar yang turut andil dalam pembangunan ini, Jaiz sarjana yang konsen
mengajar, sementara fasrisi adalah mahasiswa Unisma Malang aktifis HMI, dan
aktif di Lembaga
Pariwisata dan Pecinta Alam Mahasiswa Islam (Leppami) Malang, sedangkan Nasiri merupakan Mahasiswa Instika guluk –
guluk jurusan ekonomi syariah.
Selain tiga orang tersebut, tentu
juga banyak yang turut berperan dalam kesuksesan
pembagunan Tebing Grunggungan itu walau tidak muncul kepermukaan, sebut saja
misalnya Fahrurrosi siswa SMP, Qusyairi ( Agus) , siswa SMP, Suabie dan pihak
pihak lain – lain. Kegigihan mereka tentu perlu diapresiasi karena mampu membuat Desa Rombiya
Timur menjadi harum, tujuan mereka dalam pembangunan ini juga untuk
meningkatkan ekonomi sekitar, maka wajib hukumnya kita sebagai warga sekitar
untuk mendukung keberadaan wisata Grunggungan ini.
Blunder Status Tebing Grunggungan.
Sudah hampir satu tahun Tebing Grunggungan ini dibangun, saya yang
menjadi saksi mata masih ingat bahwa pertama kali mereka menggagas dengan
mengumpulkan bambu - bambu untuk dijadikan jembatan tebing pada hari rabu tanggal
2 agustus 2017, dihari itulah Tebing Grungan mulai dibangun dengan alat seadanya, karena
pembangun tersebut murni atas prakarsa
sendiri,biaya sendiri, cari alat sendiri, artinya tidak ada secara khusus yang
mebiayanyi pembangun tersebut, meski ada, mereka adalah para relawan.
Jika dihitung sejak 02 agustus 2017, Tebing Grunggungan sudah hampir
satu tahun berdiri, dalam dekade itu ternyata keberadaanya sudah tercium oleh beberapa
kalangan pejabat seperti Camat Gandig, Bupati Sumenep dan pelaku atau aktifis wisata. Bahkan Asosiasi
Wisata Desa Indonesia (Asidewi), Sumenep pernah berkunjung ke tempat tersebut.
Sejumlah pihak menyarankan agar wisata tersebut benar-benar dikelola
dangan baik dan professional sehingga mampu meningkat ekonomi masyarakat
sekitar missal dengan jasa perkir, munculnya pedagang atau usaha kecil menengah
dan semacamya, namun sepertinya ada beberapa hal yang masih menjadi kendala bagi
mereka untuk mengembang wisata tersebut misalnya status tanah dan perlu ada kesepakatan – kesepakat khusus dengan warga
sekitar minimal untuk memberikan kesadaran tentang wisata atau kalau perlu membentuk kelompok sadar wisata
(Pokdarwis).
Sikap Pemeritah Desa .
Menurut informasi yang kami terima, rupanya Pemerintah Desa Rombiya
Timur sejak awal terbutuk sangat mendukung keberadaan wisata ini, bahkan siap
mendanai pembangun wisata Tebing Grungan dengan alokasi anggaran Dana Desa
(DD).
Nah ini lampu hijau dan peluang bagus bagi pengelola Tebing Grunggungan,
mungkin sudah saatnya pemuda untuk melakukan
lobi – lobi dengan Pemdes setempat jika sebelumnya belum dilakukan, bagaimana caranya agar pembangunanya bisa
menggunakan DD. Tapi jika Tebing Grungungan ini, mau dibangun dengan melibatkan pemerintah desa
setempat, jika tidak misalnya mau mendatangkan investor dari luar maka hanya
meminta restu saja kepada pemerintah desa.
Terakhir, saya sebagai warga Rombiya Timur, warga sekitar Tebing
Grunggungan sangat bangga dan aprisaitif
kepada pemuda yang telah berinisiasi dalam pengagasan wisata tersebut dan siap
mendukung dalam kesuksesan.
Semoga sukses dan terus berkarya.
“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat
Bagi Orang Lain”
*Penulis Pemerhati Desa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar