Rabu, 07 Februari 2018

Andaikan Menulis Seperti Segelas Ice Juice

Oleh: 
Abdus Salam As’ad, S.Sos., M.Si.        
Askot CD Mandiri Kab. Madiun    
Koorkot 09 Kota Madiun
OSP 6 Provinsi Jawa Timur
PNPM Mandiri Perkotaan

Menulis bukanlah hal sulit. Tak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Tapi juga bukanlah hal mudah, sebagaimana yang seringkali dipersepsikan. Kesulitan yang sebenarnya adalah kesulitan bagi kita yang seringkali memompa dan memotivasi untuk istiqomah menuangkan ide melalui tulisan.
Menulis menjadi hal yang tidak menarik manakala aktivitas menulis diposisikan sebagai sesuatu untuk mendapatkan keuntungan. Walau secara empirik terbukti, aktivitas menulis bisa meraup keuntungan yang tak terkirakan. Banyak orang kaya raya lantaran menulis. Acapkali aktivitas menulis dinilai sumir bahkan dinilai miring bahwa menulis itu tidak penting. Penilaian peyoratif ini bisa saja memiliki kebenaran tetapi juga berpotensi kekeliruan.

Tengoklah Habiburrahman El-Shirazi, novelis Ayat-Ayat Cinta (2004) sampai tahun 2006 sudah terjual 240 ribu dengan royalti hampir Rp500 juta dalam dua tahun. Ada juga Raditya Dika, penulis Kambing Jantan, dengan royalti Rp100 juta dalam satu tahun. Dalam aspek materi mungkin itu yang bisa dipetik dari buah ide dalam dunia menulis. Nah, tentu kita tak hanya melihat dari aspek profit semata.

Aktivitas menulis dengan membaca dua hal yang tak bisa dipisahkan. Menulis tanpa membaca seolah-olah kehilangan makna sejatinya dari pesan penting yang disampaikan dalam tulisan. Tentu membaca dalam hal ini tidak hanya menjadi kutu buku dan setumpuk literatur dari ribuan teks dan teori, yang kadang membuat orang alergi untuk menjadikan buku sebagai sahabat setia dalam hidupnya. Akan tetapi membaca tanda-tanda zaman, fenomena sosial, menangkap berbagai fakta-fakta sosial menjadi kebutuhan mutlak bagi para penulis.

Menangkap realitas dan gejala sosial itu menjadi referensi dahsyat untuk menguji akan kepekaan penulis. Menulis adalah menggambarkan realita, menulis adalah wujud kepeduliaan terhadap lingkungannya. Menulis bukanlah aktivitas elit yang tidak berpijak terhadap fakta-fakta. Menulis bukanlah berkutat dalam ruang ide dan imajinasi yang mengasingkan diri dari dunia yang sebenarnya.

Menulis adalah dogma agama yang tak bisa ditampik. Menulis adalah pesan intrinsik yang tak perlu dibantah kebenarannya. Inilah pesan Tuhan melalui firman-Nya bahwa menulis dan membaca diabadikan dalam Al-Qur’an. Surat Al-Alaq adalah surat pertama dalam Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saat melakukan tafakkur atau kontemplasi di Gua Hiro’. Kalimat perintah membaca atau iqrok yang diulang dua kali dan menjadi qolam atau pena merupakan perintah Tuhan bahwa dengan pena itulah pengetahuan bisa berkembang.
Membaca dan menulis sebagai bagian dari pahatan paradaban dalam mengembangkan ilmu pengetahuan umat manusia. Jika hanya membaca tetapi tidak menulis maka akan tergerus dan tergilas oleh kerasnya zaman. Pesan itulah yang disampaikan oleh tokoh Pramoedya Ananta Toer. Pesan serupa juga ditegaskan oleh Halvy Tiana Rosa bahwa menulis itu memahat peradaban. Penggagas Forum Lingkar Pena ini (FLP) bersama adiknya Asma Nadia bukanlah orang asing bagi pegiat sastra dan dunia tulis menulis di Indonesia bahkan mancanegara.

Kenapa menulis dan membaca dinilai hal yang tidak penting, tidak mengasyikkan, dinilai elitis, tidak menghasilkan, menjenuhkan. Penilaian ini menjadi absah adanya. Sulit dibantah penilaian itu. Tetapi kita bisa membayangkan, andaikan aktivitas menulis itu seperti segelas Ice Juice (es jus) yang akan menghilangkan rasa dahaga dan haus di tengah-tengah terik matahari. Siapa yang tidak memburu Ice Juice, siapa yang tidak butuh Ice Juice, bahkan rela antri hanya untuk membeli Ice Juice untuk menyegarkan tenggorokan. Kenapa itu terjadi? Masyarakat dari kelas awam maupun kelas elit memburu dan membutuhkan minuman Ice Juice. Minuman ini tak berdimensi elitisme atau grassroot semuanya suka dan hobi minum Ice Juice.
Minum Ice Juice dengan membaca memiliki kesamaan fungsi yang menyebabkan manusia itu bisa sehat dan segar bugar. Minum Ice Juice itu memiliki manfaat Pertama, minuman Ice Juice itu bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Kedua, menurunkan kadar kolesterol. Ketiga, sebagai antioksidan dan antikanker. Keempat, awet muda. Kelima, menurunkan berat badan (diet) dengan catatan mengonsumsinya di malam hari sebagai pengganti makan malam. Bukan pada pagi hari dikarenakan tubuh manusia masih perlu karbohidrat yang tidak ditemukan pada buah dan sayur (http://www.mesinraya.co.id).

Begitu juga dengan aktivitas membaca. Dengan membaca maka akan melahirkan kaya fungsi sebagaimana minum Ice Juice. Dengan membaca maka kita akan memantik manfaatnya.
Pertama, akan membuat kekuatan kepada memori kita. Membaca memberikan efek berbeda dengan melihat TV dan mendengarkan radio. Inilah yang disampaikan oleh Presiden dan Direktur Penelitian Haskins Laboratories Ken Pugh PhD kepada majalah Oprah. Kebiasaan membaca memacu otak Anda berpikir dan berkonsentrasi.
Kedua, membuat latihan fisik bertahan lama. Ketiga menjaga keremajaan otak. Dengan membaca maka akan menambah umur kita. Menurut studi terbaru dari Rush University Medical Center. Ini dilansir majalah Prevention. Orang dewasa yang menghabiskan waktu luang mereka dengan melakukan kegiatan kreatif atau intelektual (seperti membaca) memiliki kemungkinan 32 persen lebih lambat mengalami penurunan kognitif di kemudian hari daripada mereka yang tidak.

Aktivitas yang melibatkan latihan otak membuat otak lebih efisien mengubah struktur untuk terus berfungsi dengan baik. Terlepas dari hal-hal neuropatologi yang berkaitan dengan usia. Begitu kata profesor neuropsikologi di Rush University Medical Center Robert S. Wilson, PhD, kepada majalah tersebut. Studi lain baru-baru ini juga menemukan bahwa Manula yang secara teratur membaca atau bermain game yang menantang daya pikir, seperti catur atau puzzle, memiliki risiko dua setengah kali lebih rendah untuk terserang penyakit Alzheimer. Fakta itu dilaporkan oleh ABC News.
Keempat, menghilangkan stres. Aktivitas membaca bisa menurunkan stres mencapai 67%. Kelima, meningkatkan kosa kata (baca http://www.readersdigest.co. id)

Dunia kita dan lingkungan kita dikerumuni orang yang lebih suka dengan dunia visual dan verbal ketimbang menghabiskan waktu untuk sekedar membaca dan menulis. Menonton televisi yang seringkali kurang mendidik dan bermanfaat itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Begitu juga dengan mengobrol panjang lebar di warung kopi tanpa terasa, tiga jam seperti tiga menit. Sementara membaca menghabiskan tiga lembar dalam buku bacaan seperti tiga jam, dengan kondisi yang tidak enjoy.

Lantas apakah tidak bisa mengubah dari dunia verbalistik, visualistik, diganti dengan dunia membaca dan menulis. Jawabannya adalah sangat bisa. Kita lahir itu bukan dibesarkan dan dibentuk oleh lingkungan. Kita harus mengubahnya. Bahwa lingkungan dan budaya itu, yang menciptakan adalah kita. Meminjam istilah filsuf Perancis Jean Paul Sartre, yang mengembangkan filsafat eksistensialisme, bahwa manusia lahir untuk menciptakan sejarah, bukan dilahirkan oleh sejarah.

Menulislah dari yang apa kita tahu. Menulislah dengan apa yang kita pahami. Dengan menulis bisa mendidik kita untuk semakin mengerti posisi kita. Menulis mengajarkan kita untuk selalu belajar. Menulis bisa membuat kita lebih bijaksana. Karena dengan menulis, ternyata ilmu yang kita miliki tidak seberapa.
Semoga dengan menulis membuat kita selalu belajar mengenai ayat-ayat Tuhan, baik qouliyah (teks) maupun kauniyah. Sehingga, kerendahan hati itu akan semakin ada jika kita mampu menangkap dan memahami ayat-ayat Tuhan itu. Semoga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar